Masih
kususuri setapak jalan itu, suaranya bergema, “ah, dasar pria malang!“, terus
seperti itu.
Mereka
masih berbicara tentang kemarau. Gerah, dan panas, katanya. Aku hanya menikmati
anginnya, beraroma segar. Mungkin kita bisa hibernasi dengan menghilangkan
jejak sekarang, tanpa perlu menunggu lagi.
Untuk
jiwa yang dulu leluasa, lalu dahaga terhadap hal-hal bodoh.
Mengapa
tidak mereka ciptakan zat penghilang rasa, saja? Sini, akan kuberikan hatiku
untuk mereka jadikan tolak ukur. Tingkatkan saja efek sampingnya. Musnahkan saja
hingga ke akar-akarnya. Komposisi yang mematikan.
Hari
ini cerah. Dan kemarau, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar