Sorong diterpan hujan, lagi, dan
terus menerus. Kumpulan air dimana-mana, hilang satu genangan maka lahir dua
sampai tiga genangan lainnya. Nyamuk
berbahagia, mereka akan berlebaran dengan banyak anggota keluarga baru.
Mungkinkah pedagang es juga merasakan hal yang sama? Hujan memang memberikan
nuansa dingin menusuk. Setelah seharian hanya sekedar menatap atau membiarkan
indra lain merasakan air dingin, maka merupakan sensasi nikmat yang luar biasa
jika saat adzan magrib indra perasa dan tenggorokan ikut mengambil perannya.
Sorong dan sekitarnya
19 Juli 2012
Kalau puasa tahun lalu saya masih
mendekap di ibukota, maka tahun ini saya dengan sadar dan bahagia berkeinginan
–dan terwujud- untuk mudik ke kampung halaman, Sorong, Papua Barat. Puasa
pertama juga saya jalani di sana. Terdapat beberapa hal yang menarik, yang
mungkin juga sedikit meresahkan hati selama dua hari pertama saya di Sorong.
Setelah hari pertama saya lalui
dengan tidur dan makan di rumah, maka hari kedua saya ditugaskan Mama untuk
menemani Nunu, adik perempuan saya, ke Puskesmas. Puskesmas dapat dijangkau
dengan sekali menggunakan taksi. Jangan bayangkan taksi di sana seperti taksi
BlueBird atau taksi-taksi seperti di ibukota. Sebenarnya taksi di Sorong lebih
mirip angkot, yah mungkin memang angkot, hanya saja semua penumpang duduk
searah dengan sopir, dan tentu penamaannya berbeda. Sebut saja taksi, jangan
angkot.
Di loket puskesmas, saya
diharuskan meletakkan kartu berobat yang diatasnamakan Bapak saya di sebuah
wadah kecil. Ruangan loketnya kecil, hanya muat dua kursi dan satu meja.
Sebagian ruangan itu habis oleh lemari-lemari berukuran sedang dengan banyak
laci, yang setelah saya amati ternyata merupakan tempat penyimpanan arsip atau
data setiap pasien yang berobat. Tidak ada komputer atau laptop. Begitu banyak
pasien yang menunggu berharap nama mereka yang disebut terlebih dahulu. Saya
yang berdiri persis di depan jendela loket langsung ditanya, “Ko tinggal di
remu utara kah?”. Dengan cepat kujawab, “Iyo. Sa tinggal di remu utara”. Yang
bertanya langsung berdiri dan memilih salah satu laci lemari yang bertuliskan
“Remu Utara”. Begitu dibuka laci tersebut, ia memilih satu dari sekian banyak
kartu yang tersimpan di sana. Antrian semakin panjang. Sempat kulirik lemari
berlaci banyak di pojok kanan ruangan. Di setiap laci tersebut tertulis abjad
yang berurutan dari bawah ke atas. Pada laci teratas tertulis “A-B”, laci kedua
“C-D”, dan begitu seterusnya. Laci-laci itu berukuran besar, bahkan lebih besar
dibandingkan laci baju adik saya di rumah. Satu hal yang lalu terbesit dibenak
saya, mengapa tidak menggunakan kecanggihan teknologi saja, komputer atau
laptop mungkin. Jadi, jika ada yang berobat, cukup dengan mengetik nama kepala
keluarga atau mungkin nama yang berobat pada software tertentu, maka akan
muncul semua data yang diperlukan. Entah itu alamat rumah, penyakit yang pernah
diderita, dan lain sebagainya. Dan pastinya saya tidak perlu bersandar di
jendela loket lebih lama lagi, karena pelayanan akan berjalan dengan cepat.
Hemat kertas juga pastinya. Jika di loket tersedia komputer, maka di setiap
poli yang terdapat di puskesmas itu diwajibkan juga tersedia komputer lain, dengan
begitu data pasien yang mau konsultasi bisa dikirim via wireline, seperti di
warnet-warnet atau di sekolahan. Sejujurnya saya sendiri pernah berobat di
puskesmas itu lebih dari sekali, tapi tidak pernah terbesit atau sekedar
terlintas mengenai hal diatas. Mungkin sudah terbiasa dengan segala hal yang
instan di ibukota sejak merantau. Mungkin.
Setelah selesai urusan adik saya
dengan puskesmas, kami bergegas pulang. Dengan taksi lagi pastinya. Saya
menyempatkan diri mampir di salah satu tempat cetak foto yang terletak di depan
mesjid agung. Jarak dari tempat cetak foto ke rumah tidak begitu jauh, maka
saya putuskan untuk berjalan kaki saja. Begitu saya melewati pom bensin, yang
masih berada di sekitar lingkungan mesjid agung, ada hal yang sangat menarik. Bayangkan
plang pom bensin, yang merah dan tinggi itu, biasa diletakkan untuk memberikan
informasi mengenai harga masing-masing bahan bakar, dan terkadang ditambahkan
juga simbol-simbol fasilitas yang tersedia di sana, seperti toilet, mushola,
dan lain sebagainya. Plang pom bensin yang saya amati dari jauh luar biasa
hebatnya. Plangnya memang terlihat biasa saja, namun simbol-simbol fasilitasnya
menggiurkan. Ditambahkannya simbol toilet, mushola, warnet, ATM, minimarket,dan
salon. Menggiurkan, bukan? Saya yang masih awam dengan perkembangan Sorong
langsung mengucapkan, “Wah, wah”, berulang-ulang. Begitu saya melewati pom
bensin yang dimaksud, kalimat ‘wah wah’ saya langsung hilang, entah kemana. Di
area pom bensin ternyata hanya ada tempat pengisian bensin, toh. Tanpa
embel-embel luar biasa tadi. Satu pengisian bensin, toh. Tidak terdapat
tanda-tanda mau dibangun bangunan baru. Tidak ada gundukan pasir, tumpukan batu
bata, susunan semen, tidak sama sekali. Lah, simbol-simbol di plang tadi
gimana? Luar biasa hebat, memang.
Sepanjang perjalanan pulang saya
hanya tersenyum. Mau dibilang kurang waras atau gila sekalipun bukan masalah
bagiku. Bahkan kalau bisa tertawa, saya akan terbahak-bahak sepanjang
perjalanan pulang.
Sorong memang masih terbatas
sarana dan prasarananya. Tapi, di Sorong saya tidak perlu berdesak-desakkan di
metromini, kopaja, patas, busway dan kendaraan umum berukuran sedang dan besar
lainnya. Di sana benda-benda seperti itu dianggap aneh dan asing. Bahkan jika
mau ke suatu tempat dengan taksi *ingat penamaan* si penumpang punya hak penuh
untuk memilih taksi yang sesuai selera dia. Mau yang full with the music,
yang masih kosong, atau mau taksi barupun bukan hal yang sulit. Sorong tidak
macet, tidak sama sekali. Terkecuali ada kecelakaan atau tilang mendadak, baru
kendaraan akan antri dengan tertib. Itupun tidak memakan waktu sampai setengah
hari. Sekalipun dalam keadaan antri seperti itu, Sorong masih punya banyak
pohon. Seolah-olah pohon berkata, “Nih, ambil saja oksigen gue. Gratis. Gak
perlu rebutan”. Tidak macet, tidak padat, banyak pohon. Hidup tidak susah.
Penutup J
Sorong, kota bersama.
Keseluruhan paragraf ini
diciptakan saat langit masih menumpahkan isinya, mungkin ia bersedih, atau justru
bahagia karena ikut membagikan hal-hal yang hanya ingin ia keluarkan. Sesekali
petir menyambar. Yah, mereka –bumi dan langit- masih terus menyamakan persepsi.
Biarkan saja, mari kita nikmati setiap detik perubahan yang alam ciptakan.
Resapi saja nada-nada yang ingin mereka utarakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar