Sabtu, 04 Agustus 2012

mudik '12 #1

Sorong diterpan hujan, lagi, dan terus menerus. Kumpulan air dimana-mana, hilang satu genangan maka lahir dua sampai tiga genangan lainnya.    Nyamuk berbahagia, mereka akan berlebaran dengan banyak anggota keluarga baru. Mungkinkah pedagang es juga merasakan hal yang sama? Hujan memang memberikan nuansa dingin menusuk. Setelah seharian hanya sekedar menatap atau membiarkan indra lain merasakan air dingin, maka merupakan sensasi nikmat yang luar biasa jika saat adzan magrib indra perasa dan tenggorokan ikut mengambil perannya.



Sorong dan sekitarnya
19 Juli 2012

Kalau puasa tahun lalu saya masih mendekap di ibukota, maka tahun ini saya dengan sadar dan bahagia berkeinginan –dan terwujud- untuk mudik ke kampung halaman, Sorong, Papua Barat. Puasa pertama juga saya jalani di sana. Terdapat beberapa hal yang menarik, yang mungkin juga sedikit meresahkan hati selama dua hari pertama saya di Sorong.
Setelah hari pertama saya lalui dengan tidur dan makan di rumah, maka hari kedua saya ditugaskan Mama untuk menemani Nunu, adik perempuan saya, ke Puskesmas. Puskesmas dapat dijangkau dengan sekali menggunakan taksi. Jangan bayangkan taksi di sana seperti taksi BlueBird atau taksi-taksi seperti di ibukota. Sebenarnya taksi di Sorong lebih mirip angkot, yah mungkin memang angkot, hanya saja semua penumpang duduk searah dengan sopir, dan tentu penamaannya berbeda. Sebut saja taksi, jangan angkot.
Di loket puskesmas, saya diharuskan meletakkan kartu berobat yang diatasnamakan Bapak saya di sebuah wadah kecil. Ruangan loketnya kecil, hanya muat dua kursi dan satu meja. Sebagian ruangan itu habis oleh lemari-lemari berukuran sedang dengan banyak laci, yang setelah saya amati ternyata merupakan tempat penyimpanan arsip atau data setiap pasien yang berobat. Tidak ada komputer atau laptop. Begitu banyak pasien yang menunggu berharap nama mereka yang disebut terlebih dahulu. Saya yang berdiri persis di depan jendela loket langsung ditanya, “Ko tinggal di remu utara kah?”. Dengan cepat kujawab, “Iyo. Sa tinggal di remu utara”. Yang bertanya langsung berdiri dan memilih salah satu laci lemari yang bertuliskan “Remu Utara”. Begitu dibuka laci tersebut, ia memilih satu dari sekian banyak kartu yang tersimpan di sana. Antrian semakin panjang. Sempat kulirik lemari berlaci banyak di pojok kanan ruangan. Di setiap laci tersebut tertulis abjad yang berurutan dari bawah ke atas. Pada laci teratas tertulis “A-B”, laci kedua “C-D”, dan begitu seterusnya. Laci-laci itu berukuran besar, bahkan lebih besar dibandingkan laci baju adik saya di rumah. Satu hal yang lalu terbesit dibenak saya, mengapa tidak menggunakan kecanggihan teknologi saja, komputer atau laptop mungkin. Jadi, jika ada yang berobat, cukup dengan mengetik nama kepala keluarga atau mungkin nama yang berobat pada software tertentu, maka akan muncul semua data yang diperlukan. Entah itu alamat rumah, penyakit yang pernah diderita, dan lain sebagainya. Dan pastinya saya tidak perlu bersandar di jendela loket lebih lama lagi, karena pelayanan akan berjalan dengan cepat. Hemat kertas juga pastinya. Jika di loket tersedia komputer, maka di setiap poli yang terdapat di puskesmas itu diwajibkan juga tersedia komputer lain, dengan begitu data pasien yang mau konsultasi bisa dikirim via wireline, seperti di warnet-warnet atau di sekolahan. Sejujurnya saya sendiri pernah berobat di puskesmas itu lebih dari sekali, tapi tidak pernah terbesit atau sekedar terlintas mengenai hal diatas. Mungkin sudah terbiasa dengan segala hal yang instan di ibukota sejak merantau. Mungkin.
Setelah selesai urusan adik saya dengan puskesmas, kami bergegas pulang. Dengan taksi lagi pastinya. Saya menyempatkan diri mampir di salah satu tempat cetak foto yang terletak di depan mesjid agung. Jarak dari tempat cetak foto ke rumah tidak begitu jauh, maka saya putuskan untuk berjalan kaki saja. Begitu saya melewati pom bensin, yang masih berada di sekitar lingkungan mesjid agung, ada hal yang sangat menarik. Bayangkan plang pom bensin, yang merah dan tinggi itu, biasa diletakkan untuk memberikan informasi mengenai harga masing-masing bahan bakar, dan terkadang ditambahkan juga simbol-simbol fasilitas yang tersedia di sana, seperti toilet, mushola, dan lain sebagainya. Plang pom bensin yang saya amati dari jauh luar biasa hebatnya. Plangnya memang terlihat biasa saja, namun simbol-simbol fasilitasnya menggiurkan. Ditambahkannya simbol toilet, mushola, warnet, ATM, minimarket,dan salon. Menggiurkan, bukan? Saya yang masih awam dengan perkembangan Sorong langsung mengucapkan, “Wah, wah”, berulang-ulang. Begitu saya melewati pom bensin yang dimaksud, kalimat ‘wah wah’ saya langsung hilang, entah kemana. Di area pom bensin ternyata hanya ada tempat pengisian bensin, toh. Tanpa embel-embel luar biasa tadi. Satu pengisian bensin, toh. Tidak terdapat tanda-tanda mau dibangun bangunan baru. Tidak ada gundukan pasir, tumpukan batu bata, susunan semen, tidak sama sekali. Lah, simbol-simbol di plang tadi gimana? Luar biasa hebat, memang.
Sepanjang perjalanan pulang saya hanya tersenyum. Mau dibilang kurang waras atau gila sekalipun bukan masalah bagiku. Bahkan kalau bisa tertawa, saya akan terbahak-bahak sepanjang perjalanan pulang.
Sorong memang masih terbatas sarana dan prasarananya. Tapi, di Sorong saya tidak perlu berdesak-desakkan di metromini, kopaja, patas, busway dan kendaraan umum berukuran sedang dan besar lainnya. Di sana benda-benda seperti itu dianggap aneh dan asing. Bahkan jika mau ke suatu tempat dengan taksi *ingat penamaan* si penumpang punya hak penuh untuk memilih taksi yang sesuai selera dia. Mau yang full with the music, yang masih kosong, atau mau taksi barupun bukan hal yang sulit. Sorong tidak macet, tidak sama sekali. Terkecuali ada kecelakaan atau tilang mendadak, baru kendaraan akan antri dengan tertib. Itupun tidak memakan waktu sampai setengah hari. Sekalipun dalam keadaan antri seperti itu, Sorong masih punya banyak pohon. Seolah-olah pohon berkata, “Nih, ambil saja oksigen gue. Gratis. Gak perlu rebutan”. Tidak macet, tidak padat, banyak pohon. Hidup tidak susah.

Penutup J
Sorong, kota bersama.
Keseluruhan paragraf ini diciptakan saat langit masih menumpahkan isinya, mungkin ia bersedih, atau justru bahagia karena ikut membagikan hal-hal yang hanya ingin ia keluarkan. Sesekali petir menyambar. Yah, mereka –bumi dan langit- masih terus menyamakan persepsi. Biarkan saja, mari kita nikmati setiap detik perubahan yang alam ciptakan. Resapi saja nada-nada yang ingin mereka utarakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar