Senin, 09 April 2012

Nikmat dan Aplikasinya


Kalo ingat ajaran ustadz/ah tentang mensyukuri nikmat, sepertinya mudah gitu teorinya, tapi pengaplikasiannya, subhanallah, hampir sederajat sama ikhlas, menuju ke kata ‘agak sulit’ lah. Allah berfirman, Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak  ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3). Bukan mau sok alim atau ngasih ceramah nih, hanya sekedar mengintropeksi diri *senyum*

Awal kuliah di Jakarta, ucapanku hanya alhamdulilah berkali-kali. Pendaftaran di kampus, MPA, dan berbagai embel-embelnya. Berakhirkah? Tidak. Ternyata ada proses adaptasi yang memakan waktu cukup lama, mulai dari omongan, tindakan, sampai hal-hal kecil kayak makan juga terhitung loh. Lebay sih emang, tapi untuk anak daerah yang benar-benar daerah seperti saya ini penyiksaan  --, . Ah, sayangnya saya tidak kembali mengucapkan ‘alhamdulilah’, seharusnya saya bersyukur, kan jarang-jarang seorang nilawati bisa menguasai dua logat dan gaya bahasa yang berbeda dengan baik dan benar :D
Dua tahunlah saya di Jakarta. Jadi ingat perkataan teman, “Nila sekarang logatnya udah g ada Papua lagi”. Bibir saya mengguriskan senyum, tapi hati saya tertawa ngakak, hahaha. Alhamdulilah, pernyataan sederhana yang menyejukkan hati. Bagaimana tidak, dulu, setiap saya mengeluarkan kata-kata yang salah atau mungkin terpeleset dari yang seharusnya, bisa jadi bahan cengan berulang-ulang. Proses adaptasi? Mungkin. Kelas dan organisasi menuntut saya mampu berkomunikasi dengan baik dan tepat *lebay* :D
Saya bukan tipe orang yang hebring, yang bisa cairin suasana, juga bukan seorang idealis, yang mampu mengamati dan menganalisis hal-hal yang tidak teramati orang lain, atau orang humoris, yang selalu buat nyaman orang-orang disekitarnya. Tulisan saya masih tertatih kalo katanya kerispatih :D, masih jongkok kalo kata kakak saya. Ah, terkadang iri lihat tulisan orang dengan tipe hebring tadi, bisa aja nulis dengan kreasi dia, dengan kemampuan dia cairin suasana, ada aja gitu hal-hal yang buat orang lain nyaman dengan tulisan dia. Atau seorang idealis seperti salah satu idola saya, nulis hal-hal yang jauh dari jangkauan otak saya, yang ketika saya baca jadi manggut-manggut sendiri. Kalo sudah kayak gitu, kembali ke surat Fathir ayat 3 tadi. Cakupannya luas loh J.
Mensyukuri segala sesuatu. Saya bersyukur, bukan berarti langkah saya terhenti gitu. Misal, alhamdulilah IP nya 3,00, nah semester depan harus lebih tinggi lagi. Bersyukur dengan usaha maksimal trus dimaksimalkan lagi dengan usaha yang keras *tingkattinggi*. Semoga saya bisa seperti Mas Toer, yang namanya tercatat dengan baik dalam sejarah sastra Indonesia, atau kayak Chrisye yang lagunya masih dan tetap tersebar di pelosok Indonesia. InsyaAllah. Aamiin. Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian (dari perbuatan syukur tersebut).” (Az-Zumar: 7). Janji Allah itu pasti. Mensyukuri nikmat untuk saat ini. Alhamdulilah... 

*maaf kalo tulisannya masih berantakan. Ingat kata kerispatih dan kakak saya tadi* :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar