Kalo
ingat ajaran ustadz/ah tentang mensyukuri nikmat, sepertinya mudah gitu
teorinya, tapi pengaplikasiannya, subhanallah, hampir sederajat sama ikhlas,
menuju ke kata ‘agak sulit’ lah. Allah berfirman, “Wahai
manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah Pencipta selain Allah
yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain
Dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3). Bukan mau sok alim atau
ngasih ceramah nih, hanya sekedar mengintropeksi diri *senyum*
Awal kuliah di
Jakarta, ucapanku hanya alhamdulilah berkali-kali. Pendaftaran di kampus, MPA,
dan berbagai embel-embelnya. Berakhirkah? Tidak. Ternyata ada proses adaptasi yang
memakan waktu cukup lama, mulai dari omongan, tindakan, sampai hal-hal kecil
kayak makan juga terhitung loh. Lebay sih emang, tapi untuk anak daerah yang
benar-benar daerah seperti saya ini penyiksaan
--, . Ah, sayangnya saya tidak kembali mengucapkan ‘alhamdulilah’,
seharusnya saya bersyukur, kan jarang-jarang seorang nilawati bisa menguasai
dua logat dan gaya bahasa yang berbeda dengan baik dan benar :D
Dua tahunlah saya di
Jakarta. Jadi ingat perkataan teman, “Nila sekarang logatnya udah g ada Papua
lagi”. Bibir saya mengguriskan senyum, tapi hati saya tertawa ngakak, hahaha.
Alhamdulilah, pernyataan sederhana yang menyejukkan hati. Bagaimana tidak,
dulu, setiap saya mengeluarkan kata-kata yang salah atau mungkin terpeleset
dari yang seharusnya, bisa jadi bahan cengan berulang-ulang. Proses adaptasi?
Mungkin. Kelas dan organisasi menuntut saya mampu berkomunikasi dengan baik dan
tepat *lebay* :D
Saya bukan tipe
orang yang hebring, yang bisa cairin suasana, juga bukan seorang idealis, yang
mampu mengamati dan menganalisis hal-hal yang tidak teramati orang lain, atau
orang humoris, yang selalu buat nyaman orang-orang disekitarnya. Tulisan saya
masih tertatih kalo katanya kerispatih :D, masih jongkok kalo kata kakak saya.
Ah, terkadang iri lihat tulisan orang dengan tipe hebring tadi, bisa aja nulis
dengan kreasi dia, dengan kemampuan dia cairin suasana, ada aja gitu hal-hal
yang buat orang lain nyaman dengan tulisan dia. Atau seorang idealis seperti salah
satu idola saya, nulis hal-hal yang jauh dari jangkauan otak saya, yang ketika
saya baca jadi manggut-manggut sendiri. Kalo sudah kayak gitu, kembali ke surat
Fathir ayat 3 tadi. Cakupannya luas loh J.
Mensyukuri segala
sesuatu. Saya bersyukur, bukan berarti langkah saya terhenti gitu. Misal,
alhamdulilah IP nya 3,00, nah semester depan harus lebih tinggi lagi. Bersyukur
dengan usaha maksimal trus dimaksimalkan lagi dengan usaha yang keras *tingkattinggi*. Semoga saya bisa
seperti Mas Toer, yang namanya tercatat dengan baik dalam sejarah sastra
Indonesia, atau kayak Chrisye yang lagunya masih dan tetap tersebar di pelosok
Indonesia. InsyaAllah. Aamiin. “Dan jika
kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian (dari perbuatan syukur
tersebut).” (Az-Zumar: 7). Janji Allah itu pasti. Mensyukuri nikmat untuk
saat ini. Alhamdulilah...
*maaf kalo tulisannya masih berantakan. Ingat kata kerispatih dan kakak saya tadi* :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar